Website Traffic Tracking

Jumat, 25 Mei 2012

Tentang Anarkis

    Pertama-tama saya mau meluruskan nih, disini saya sebetulnya akan mengenai penyalahgunaan kata anarki, bukan menjelaskan sejarah anarkisme lho :P
   Oke. Saya yakin kita semua familiar dengan kata "anarkis", entah pernah kita lihat atau dengar lewat membaca di koran, televisi, sampai dalam penggunaan kata kita sehari-hari. Lalu, kenapa saya membuat tulisan mengenai hal ini, mengenai anarkis? Hehehe. Alasannya simpel (dan agak kurang ajar), karena saya paling gemas dengan orang Indonesia yang suka salah mengartikan bahasanya sendiri, hahaha XD
    Err yak, cukup ngeledeknya, gile, bangsa sendiri juga :P Kalau gitu mari kita langsung intip KBBI untuk mendapat kejelasan mengenai arti dari kata anarkis yang benar aja deh.

    Anarkis menurut KBBI:

anar.kis
[n] (1) penganjur (penganut) paham anarkisme; (2) orang yg melakukan tindakan anarki


    Loh, jadi anarkis itu bukan kekerasan? Ya bukan dong. Terus, apa dong anarki itu? Maksudnya penganut paham anarkisme itu apa? Sabar, sekarang kita lihat apa arti anarkisme dan anarki menurut KBBI:


anar.kis.me
[n] ajaran (paham) yg menentang setiap kekuatan negara; teori politik yg tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang


anar.ki
[n] (1) hal tidak adanya pemerintahan, undang-undang, peraturan, atau ketertiban; (2) kekacauan (dl suatu negara)


    Nah! Jadi anarkis, kalau kita simpulkan, dapat berarti seseorang dengan paham yang menentang kekuatan negara atau pemerintahan, atau orang yang menginginkan ketiadaan pemerintahan. Tidak ada kaitannya dengan kekerasan/pengrusakan sedikitpun. Kalau menurut saya, kata yang lebih mendekati gambaran anarkis yang selama ini ada di benak orang Indonesia kebanyakan adalah vandalisme.


    Arti kata vandalisme menurut KBBI:



va.ndal.is.me
[n] (1) perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dsb); (2) perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas
    Jadi setelah ini enggak ada deh tuh ya, memakai kata anarkis sebagai kata ganti kekerasan atau mengaitkannya dengan kekerasan. Malu dong, masa arti kata bahasa sendiri enggak tahu? :))
(Kedengerannya sombong banget ya? Hahaha maaf deh XD)


    Ya gitu. Karena saya memang enggak berbakat nulis, jadi cukup segini aja koar-koarnya, saya juga bikin post ini karena sudah terlalu gemas sama kesalahpahaman yang berkelanjutan aja kok heuheuheu :P Oke deh, sekian dan aura kasih! #kemudiandikeplak




Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/ 

Jumat, 16 Maret 2012

Useless generation (?)

Sebelumnya saya ingatkan sebelum anda membaca tulisan saya, tulisan ini mungkin akan mengundang banyak kritik, jika GNFI adalah pembawa angin segar bagi bangsa ini, sebaliknya tulisan saya kali ini adalah kemarau yang akan membuat harapan anda gersang. Well, tidak separah itu sih. Saya-nya saja yang memang cenderung suka menggunakan majas hiperbola.

Saya selalu mendengus setiap kali melihat gerombolan anak-anak seusia saya yang suka merengek dan mengeluh mengenai sulitnya hidup mereka, betapa 'pelit'nya orang tua mereka, betapa tidak beruntungnya mereka, yang ironisnya ditulis melalui perangkat komunikasi terkini terutama smartphone seperti Blackberry, iPhone dan ponsel-ponsel berbasis Android. Hey, those kids in Africa would definitely beg to differ, you ungrateful twats.

Saya selalu mendengus setiap kali melihat gerombolan anak-anak seusia saya berteriak galau dengan bangga, yang sebetulnya pasti mereka tidak tahu pasti apa artinya.

Saya selalu mendengus setiap kali melihat gerombolan anak-anak seusia saya dengan mudah mengikuti tren yang sebetulnya sangat tidak perlu diikuti. Ingat D-SLR? Sepeda Fixie? Braces atau kawat gigi? Tren ini membuat pandangan kami kabur antara apa yang sebetulnya keren dan sebetulnya pure stupidity and waste of money.

Saya selalu mendengus setiap kali melihat anak-anak seusia saya lebih tahu siapa Robert Pattinson dibanding Al Pacino, lebih akrab dengan film Twilight dibanding Reservoir Dogs, A Clockwork Orange, Pulp Fiction, Twilight Zone, dll. Lebih mengidolakan Justin Bieber dan Super Junior ketika mempertanyakan siapa itu Paul McCartney.

Sejak kecil seakan-akan kami sudah dididik untuk menjadi calon-calon manusia egois kapitalis yang akan menghalalkan segala cara untuk meraih kejayaan. Ternyata sebagaimana hebat dan rumitpun sistem pendidikan Indonesia, masih tidak bisa mengobati kebodohan pemuda-pemudinya. Tekanan sosial yang secara langsung maupun tidak langsung menekan kami untuk menjadi yang terdepan dalam hal prestisi dan sok bertingkah dengan alasan mencari jati diri. Sampah.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan mereka yang berprestasi, tetapi yah, inilah kenyataan. Lebih tepatnya 'teriakan' saya atas apa yang terjadi pada generasi saya sendiri. Bukankah agak lucu jika kalau dipikir lagi, generasi yang gemar update status galau dengan bahasa Inggris yang grammarnya lebih mengundang tawa dibanding script jokes stand-up comedy, yang gemar memakai behel dan naik fixie serta berfoto didepan cermin dengan kamera yang berlipat harganya dari UMR buruh ini yang nantinya akan memimpin negara ini.

Saya yakin, kalian yang membaca tulisan saya ini juga mendengus, terkekeh, atau setidaknya mengerinyitkan dahi, entah karena poin-poin yang saya tuliskan ataupun karena kadar kemunafikan yang terasa kental karena kenyataannya bahwa saya sebetulnya masih bagian dari mereka.

Sabtu, 04 Februari 2012

My Version of 25 Best Frontmen (in no particular order)


(left to right)

Ian Curtis - Joy Division; Axl Rose - Guns N' Roses; Bono - U2; Bruce Dickinson - Iron Maiden; Mick Jagger - The Rolling Stones

Morrissey - The Smiths; Robert Plant - Led Zeppelin; Jim Morrison - The Doors; Robert Smith - The Cure; Ian Brown - The Stone Roses

Brett Anderson - Suede; Liam Gallagher - Oasis; Thom Yorke - Radiohead; Damon Albarn - Blur; Jarvis Cocker - Pulp

Jonsi - Sigur Rós; Tom Meighan - Kasabian; Alex Kapranos - Franz Ferdinand; Dave Gahan - Depeche Mode; Matt Bellamy - Muse

Alex Turner - Arctic Monkeys; Kurt Cobain - Nirvana; Freddie Mercury - Queen; Chris Martin - Coldplay; Julian Casablancas - The Strokes

Jumat, 15 April 2011

Balada Bahasa Jerman

Kali ini saya mau bercerita pengalaman saya sekian bulan belajar bahasa neraka Jerman.

Berawal dari kecintaan saya terhadap pelatih timnas sepakbola Jerman dan rasa penasaran akan kebudayaan orang-orang yg kalo ngomong kayak lagi ngunyah alumunium foil ini, saya nekat belajar di salah satu institusi yg *ehem* lumayan terkenal.

Selain belajar bahasa, saya juga belajar kebudayaan mereka. Dan salut, mereka itu disiplinnya bukan main, pernah suatu hari guru saya bercerita (beliau pernah menetap disana) kalau yang namanya menyalip kendaraan is a big no dan bahkan bisa masuk koran. bayangkan disini, orang ada celah 2 senti aja dipaksain lewat....

Well sebetulnya banyak sih, yang saya pelajari selama sekian bulan belajar budaya mereka, tapi saya-nya aja yg males. Ini masih mau buka laptop dan blogger.com bernafas aja udah syukur...

Oh satu lagi, saran bagi mereka yg mau belajar bahasa Jerman, belajarlah bicara seperti master Yoda. Like, Mengerti, kamu harus.

Baru gitu aja sih ceritanya, kalo saya lagi rajin dan inget password dan Tuhan mengizinkan nanti saya cerita-cerita lagi deh. (Bilang aja males)

Terima kasih bagi kalian yang mau sempat baca post ini, semoga kalian dibawah perlindungan Tuhan apapun yg kita sembah, selalu.

Sekian dan aura kasih! *eh*

*klik terbitkan entri*

Senin, 21 Juni 2010

Screw thou, maths!

Cerita bermulai dari keidiotan saya di bidang matematika, yang bahkan menghitung akar bilangan saja tidak becus. Apalagi disuruh menghitung logaritma dimensi tiga dan lainnya?

Setiap ulangan matematika, tidak pernah tidak remedial. Entah kenapa. Apa guru saya yang kagum sama saya sehingga segitu inginnya selalu ketemu saya di sesi remedial atau bahkan matematika-nya yang naksir saya? Halah.


Ulangan matematika = mati. Selalu itu yang kepikiran. Eh tunggu, saya bahkan seharusnya tidak bisa berpikir apa - apa lagi menjelang ulangan, paling kertas ulangan terisi coretan indah asal - asalan. Menyedihkan.



Sampai suatu hari, di puncak ketololan saya, dimana saya tidak bisa mengerjakan soal sama sekali. Materi ulangannya adalah sin cos tan dan luas segitiga.



Dari menit pertama sih saya kalem. Sangat kalem. Bukan karena apa, toh karena gak bisa ngerjain juga. Dan akhirnya daripada nganggur, saya malah nulis semacam surat permintaan maaf (atau bisa dibilang surat bunuh diri...)




BuktiBahwaKanjaIdiot.jpg

BuktiBahwaKanjaGeblek.jpg
I. am. retarded.