Website Traffic Tracking

Jumat, 16 Maret 2012

Useless generation (?)

Sebelumnya saya ingatkan sebelum anda membaca tulisan saya, tulisan ini mungkin akan mengundang banyak kritik, jika GNFI adalah pembawa angin segar bagi bangsa ini, sebaliknya tulisan saya kali ini adalah kemarau yang akan membuat harapan anda gersang. Well, tidak separah itu sih. Saya-nya saja yang memang cenderung suka menggunakan majas hiperbola.

Saya selalu mendengus setiap kali melihat gerombolan anak-anak seusia saya yang suka merengek dan mengeluh mengenai sulitnya hidup mereka, betapa 'pelit'nya orang tua mereka, betapa tidak beruntungnya mereka, yang ironisnya ditulis melalui perangkat komunikasi terkini terutama smartphone seperti Blackberry, iPhone dan ponsel-ponsel berbasis Android. Hey, those kids in Africa would definitely beg to differ, you ungrateful twats.

Saya selalu mendengus setiap kali melihat gerombolan anak-anak seusia saya berteriak galau dengan bangga, yang sebetulnya pasti mereka tidak tahu pasti apa artinya.

Saya selalu mendengus setiap kali melihat gerombolan anak-anak seusia saya dengan mudah mengikuti tren yang sebetulnya sangat tidak perlu diikuti. Ingat D-SLR? Sepeda Fixie? Braces atau kawat gigi? Tren ini membuat pandangan kami kabur antara apa yang sebetulnya keren dan sebetulnya pure stupidity and waste of money.

Saya selalu mendengus setiap kali melihat anak-anak seusia saya lebih tahu siapa Robert Pattinson dibanding Al Pacino, lebih akrab dengan film Twilight dibanding Reservoir Dogs, A Clockwork Orange, Pulp Fiction, Twilight Zone, dll. Lebih mengidolakan Justin Bieber dan Super Junior ketika mempertanyakan siapa itu Paul McCartney.

Sejak kecil seakan-akan kami sudah dididik untuk menjadi calon-calon manusia egois kapitalis yang akan menghalalkan segala cara untuk meraih kejayaan. Ternyata sebagaimana hebat dan rumitpun sistem pendidikan Indonesia, masih tidak bisa mengobati kebodohan pemuda-pemudinya. Tekanan sosial yang secara langsung maupun tidak langsung menekan kami untuk menjadi yang terdepan dalam hal prestisi dan sok bertingkah dengan alasan mencari jati diri. Sampah.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan mereka yang berprestasi, tetapi yah, inilah kenyataan. Lebih tepatnya 'teriakan' saya atas apa yang terjadi pada generasi saya sendiri. Bukankah agak lucu jika kalau dipikir lagi, generasi yang gemar update status galau dengan bahasa Inggris yang grammarnya lebih mengundang tawa dibanding script jokes stand-up comedy, yang gemar memakai behel dan naik fixie serta berfoto didepan cermin dengan kamera yang berlipat harganya dari UMR buruh ini yang nantinya akan memimpin negara ini.

Saya yakin, kalian yang membaca tulisan saya ini juga mendengus, terkekeh, atau setidaknya mengerinyitkan dahi, entah karena poin-poin yang saya tuliskan ataupun karena kadar kemunafikan yang terasa kental karena kenyataannya bahwa saya sebetulnya masih bagian dari mereka.